maaf yang namanya rindu terpaksa mengabaikanmu malam ini
terpaksa ku tak mengenalmu, dan alpa bermain denganmu
tapi rindu itu masih tersimpan rapi dibawah lipatan yang namanya rasa
malam ini terasa sepi, karena kita tak saling menyapa
meski di ujung jalan kulihat engkau menatapku tajam dari jendela kamarmu
kita tak saling menyapa karena janji menyimpan senyum untuk malam ini
disini, didekat lipatan rasa
menahan rindu yang sesekali memaksa, merontak
katanya ini menyiksa kita
tapi kujawab dengan sendu dan berbisik ditelingah kirimu
"ini membuat kita sadar bahwa rasa yang namanya rindu,
jadi ikatan bahwa kita jangan lagi tak menyapa"
jam 1.52 tegah malam
berani kurapikan lipatan rasa yang sedikit kusut
dan melihat rindu yang terdiam hening tanpa kata
maaf malam ini aku alpa mengajakmu
malam ini hanya doa yang selalu kupanjatkan untukmu
agar rindu itu tak membuatmu sepi
rindu kamu...
rindu kamu...
aarghh...kurmerindukanmu
masih disini menjaga lipatan rasa dengan rindu yang sedikit tenang
karena merontak, lelah..
2.08 tengah malam
rindu itu tertidur dengan aku yang masih terjaga disampingya
kutakut rindu itu pergi
karena kita telah bersepakat..
menjaganya,
esok kita akan melepas rindu
esok, kuingin kau menyapaku dengan rindu yang menemanimu
dan senyum yang menepati janjinya
dan akan kubisikkan ketelinga kananmu
"kumerindukanmu"
30-11-14
AL-jibril..
kegelisahan yang berkecamuk bercampur rasa dan analisa rasio sehingga berani kukatakan ini adalah kita dalam penat,suka dan duka walaupun terlihat aneh tapi semoga membuat kita teduh, disini ada kedamaian dalam keingintahuan.
Sabtu, 29 November 2014
Jumat, 14 November 2014
Makassar 2X Tambah Rantasa'
tanggal 10 november pukul 15.30 wita
tahun 2014 pertanda bahwa perayaan parade budaya telah dimulai jumlah peserta
pun mencapai 3000 peserta (sumber media cetak ) dalam rangka memperingati hut
kota makassar yang 407 dan juga satu tahun kepemimpinan bapak walikota makassar
muh.Ramadhan Pomanto dan Syamsul Rizal atau lebih akrab disapa dg. Ical dimana
tagline mereka ana’ lorongna makassar membangun kota dari lorong (2X+=P) dan makassar menuju kota dunia
dengan berbagai macam program salah satunya adalah MTR atau makassar ta’ tena
Rantasa’ ehh tidak rantasa’ tawwa kowdong serta sampah tukar beras dengan
spesifikasi sampah yaitu pelastik dan logam, 5kg sampah=1kg beras dan juga
program turunannya adalah LISA “lihat sampah ambil” dan buang disembarang
tempat karena sarana pendukung belum sempat di adakan yaitu mobil penyapu
jalan,tempat sampah dan juga kantong pelstik sampah dan ini sangat disayangkan
oleh banyak kalangan utamanya bapak walikota sendiri yang mengatakan disalah
satu media cetak ternama dikota makassar terbitan sabtu tanggal 08 november
2014 menyayangkan anggaran MTR yang tidak dipakai untuk pengadaan sarana
pendukung makassarta’ tetap rantasa’ padahal anggaran tersebut sudah di
alokasikan pada APBD 2013 dan ini akan menjadi SILPA ( sisa lebih penggunaan
anggaran) dalam artian progaram tersebut jalan ditempat atau sekedar pencitraan
dengan keheboan tagline dan sapnduk disebar disetiap sudut jalan serta dipagar
depan sekolah yang ada dikota makassar dengan kondisi yang sedikit
memprihatinkan karena spanduk tersebut sudah banyak yang sobek,hilang dan juga
terlipat karena tali ikatannya teruputus apakah ini merupakan cerminan program
tersebut tidak begitu diseriusi oleh bapak walikota dan SKPD yang bertanggung
jawab dalam hal ini utamanya dinas kebersihan kota makassar.
Pemandangan yang berbeda pada malam
hari diseputaraan pantai losari tepatnya
malam minggu tanggal 08 november 2014 pukul 21.00 wita saya berencana menikmati
malming di anjungan pantai loasri setibanya disana, saya sambut dengan spanduk
panjang dan masih baru terpasang ditepi jalan anjungan bugis makassar yang
bertuliskan “makassarta’ tidak rantasa’”
dan seketika saya menoleh kebagian bawah spanduk dengan mudahnya saya menemukan
sampah yang berbagai macam jenis yang tak satu orang pun yang menghiraukan
sampah yang beserakan itu, saya cukup prihatin dengan program MTR dan semoga
saja esok harinya sampah tersebut berubah menjadi beras ataukah berpindah
tempat oleh hembusan anging mammiri dan tangan jahil LISA “lihat sampah ambil”
lalu membuang kepantai losari, sangat disayangkan program yang harusnya dapat
merubah citra makassar malah menjadi alat untuk pencitraan semata, inilah
contoh jika program dijalankan dengan setengah hati atau tak dimulai dari pondasi dasar dengan memberikan pengetahuan
tentang bahaya membuag sampah sembarangan karena merubah prilaku masayarakat
itu tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sedikit lama, dimana tingkatan
perubahan prilaku itu dimulai dari tahu ,sadar, mau dan mampu ke empat
tingkatan ini harus dilalui agar prubahan yang terjadi karena faktor kesadaran
dari masyarakat tanpa adanya intervensi
dari manapun (konsep pemberdayaan masyarkat).
harusnya pemerintah kota makassar sudah
memikirkan tentang penegakan sanksi jika terbukti kedapatan membuang sampah
serta pengawas yang bertugas menegur dan juga mengedukasi tentang bahaya
membuang sampah sembarangan karena sampah bersifat akumulatif jika tak
dipikirkan solusi akan mewariskan bencana untuk anak cucu kita kedepan apalagi
makassar dengan jumlah penduduk Berdasarkan data Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Makassar, saat ini sebanyak 432.115 jiwa atau
131.299 kepala keluarga (kk) dari total penduduk Kota Makassar sekitar 1,4 juta
orang hidup masih hidup dan menetap dalam kawasan pemukiman kumuh Makassar,
sebagian besar pemukiman mereka berada di lorong-lorong kota makassar, inimi
dibilang ana’lorongna makassar, tahun
2014 itu bertambah belum lagi urbanisasi yang tiap tahunnya bertambah karena
makassar sudah menjadi daerah tujuan untuk para wisatawan, pengusaha, pelajar/mahaiswa
tak ketinggalan para pencari kerja dan masalah sampah harus menjadi prioritas
agar makassar smart city dapat terwujud dengan prilaku masyarkatnya displin dan
teratur.
I love MC (Makassar smart city)
harusnya mengandeng falasafah siri’napacce yang telah menjadi prinsip yang
mengalir dalam darah putra/putri bugis makassar, siri’ kalo rantasa’ siri’ kalo
tidak maccaki, siri’ kalo buang sampah sembarangan, siri’ kalo tidak amanah dan
siri’ kalo berbicara 2X.
Dalam teory hendrik l.blum
peningkatan derajat kesehatan dipengaruhi dari empat faktor : 1.lingkungan,
dimana kebersihan ligkungan dari lorong hingga jalan protokol harus terjaga
denga ditunjang saran dan prasaran. 2.prilaku, sikap, sifat dan tindakan birokrasi yang betanggung jawab
serta elemen masyrakat harus saling bahu membahu dalam melaksanakan program MTR
“makassarta’ tidak rantasa’”. 3.pelayanan kesehatan, harusnya petugas kesehaan
menjadwalkan sosialisasi kemasyarakat guna memberikan edukasi atau pengetahuan
tentang bahaya membuang sampah serta melakukan pendampingan dalam kegiatan
kerja bakti dan kegiatan ini diharuskan semua dinas yang bertanggung jawab
terhadap program MTR itu turut ambil bagian dalam kerja bakti mingguan dari
lorong ke jalan protokol sesuai slogan membangun kota dari lorong. 3.genetika
faktor ini biasanya cenderung mencontoh prilaku orang tua, dimana orang tua
membuang sampah sembarangan pastinya anaknya juga ikut membuang sampah sembarangan
makanya perlu pendidikan baik itu untuk anaknya juga orang tuanya yang tak
henti diberi pengertian, sosialisasi agar konsep pemberdayaan itu terlaksana
untuk menjadikan makassarta’ tidak rantasa’.
SKPD harus lebih responsif dalam
menjalankan tugas bukan lagi terpaku pada program yang ada sifatnya normatif
tetapi harus berani mengambil terobosan baru untuk mendukung program bapak
walikota makassar pak dany pomanto (sapaan akrab ana’lorong) harusnya
birokrasilah yang menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program ini, untuk
menjadi contoh masyarakat bahwa membuang sampah sembarang tempat itu melanggar
hukum dan juga menyebabkan pencemaran lingkungan dan udara yah ujung-ujung nya
masyarakat sendiri yang menderita berbagi macam penyakit, dan kita tidak lagi
berorientasi pada kuratif dan rehabilitatif tetapi lebih kepada promotif,
preventif dengan konsep pemberdayaan yakin saja masyarakat akan sadar dalam
menjaga kebersihan dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Seperti yang dilansir dimedia cetak
terkait program MTR yang sepertinya
tidak serius untuk dijalankan, anggaran ada tetapi koq tidak digunakan biasanya
program bertumpuk tetapi anggaran yang tidak ada, apakah ini bukti bahwa
reformasi birokrasi harus digaungkan dikota makassar dalam hal kedisiplinan dan
tanggung jawab, solusi buat walikota harusnya SKPD bapak harus direformasi dan
di up grude agar bisa terus berada disamping bapak ketika berlari (mengerjakan
tugas) jangan lagi ada yang ketinggalan apalagi tidak menyentuh garis finish
(menyelesaikan tugas).
Apalagi makassar lahir dengan
branding baru makassar smart city menuju kota dunia dikepemimpinan bapak dany
pomanto yang notabene beliau adalah ahli tata kota ini merupakan tugas berat
pak wali jika tak dilaksanakan bersama, bayangkan sejuta karakter birokrasi dan
masyarakat dikota makassar yang harus disadarkan agar mau mejalankan program
yang adami danaya kowdong,nia’ngasengmi ada yang, acuh, cuek, malasa’rantasa’, kumbala’,
tongolo’, pa’bambangan na tolo dan juga pallakah ngeless, tena na akui bahwa
iya punna jamang-jamang, eroki narrusu’ rikana baji ri dallekanna pak wali,
“sanging tau ero nyamang tea ecoh”.
Nabilang masyarakat kah manami bede’ 2X+=P harusnya birokrasi yang menjadi
teladan dan contoh dalam pelaksanaan program MTR ehh ini bukannya menjalankan
program tapi main judi dikantornya pak wali, mental birokrasi perlu di revolusi
yang tidak amanah diberikan sanksi tegas saja pak wali bikin rantasa’-rantasa’
ji kantor walikota.
Selamat ulang tahun kota makassar, jayalah teruss dalam
menghadapi masyarakat ekonomi asean tahun depan pasar bebas sesama
negara-negara asean semoga dalam program MTR menghasilkan produk daur ulang sampah yang bisa menjadi barang
souvenir khas kota makassar (ole-ole) yang di ekspor kenegara asean.
Makassar,09 nov 2014
01.19 wita
Langganan:
Postingan (Atom)

