Jumat, 14 November 2014

Makassar 2X Tambah Rantasa'




tanggal 10 november pukul 15.30 wita tahun 2014 pertanda bahwa perayaan parade budaya telah dimulai jumlah peserta pun mencapai 3000 peserta (sumber media cetak ) dalam rangka memperingati hut kota makassar yang 407 dan juga satu tahun kepemimpinan bapak walikota makassar muh.Ramadhan Pomanto dan Syamsul Rizal atau lebih akrab disapa dg. Ical dimana tagline mereka ana’ lorongna makassar membangun kota dari lorong (2X+=P) dan makassar menuju kota dunia dengan berbagai macam program salah satunya adalah MTR atau makassar ta’ tena Rantasa’ ehh tidak rantasa’ tawwa kowdong serta sampah tukar beras dengan spesifikasi sampah yaitu pelastik dan logam, 5kg sampah=1kg beras dan juga program turunannya adalah LISA “lihat sampah ambil” dan buang disembarang tempat karena sarana pendukung belum sempat di adakan yaitu mobil penyapu jalan,tempat sampah dan juga kantong pelstik sampah dan ini sangat disayangkan oleh banyak kalangan utamanya bapak walikota sendiri yang mengatakan disalah satu media cetak ternama dikota makassar terbitan sabtu tanggal 08 november 2014 menyayangkan anggaran MTR yang tidak dipakai untuk pengadaan sarana pendukung makassarta’ tetap rantasa’ padahal anggaran tersebut sudah di alokasikan pada APBD 2013 dan ini akan menjadi SILPA ( sisa lebih penggunaan anggaran) dalam artian progaram tersebut jalan ditempat atau sekedar pencitraan dengan keheboan tagline dan sapnduk disebar disetiap sudut jalan serta dipagar depan sekolah yang ada dikota makassar dengan kondisi yang sedikit memprihatinkan karena spanduk tersebut sudah banyak yang sobek,hilang dan juga terlipat karena tali ikatannya teruputus apakah ini merupakan cerminan program tersebut tidak begitu diseriusi oleh bapak walikota dan SKPD yang bertanggung jawab dalam hal ini utamanya dinas kebersihan kota makassar.

Pemandangan yang berbeda pada malam hari  diseputaraan pantai losari tepatnya malam minggu tanggal 08 november 2014 pukul 21.00 wita saya berencana menikmati malming di anjungan pantai loasri setibanya disana, saya sambut dengan spanduk panjang dan masih baru terpasang ditepi jalan anjungan bugis makassar yang bertuliskan  “makassarta’ tidak rantasa’” dan seketika saya menoleh kebagian bawah spanduk dengan mudahnya saya menemukan sampah yang berbagai macam jenis yang tak satu orang pun yang menghiraukan sampah yang beserakan itu, saya cukup prihatin dengan program MTR dan semoga saja esok harinya sampah tersebut berubah menjadi beras ataukah berpindah tempat oleh hembusan anging mammiri dan tangan jahil LISA “lihat sampah ambil” lalu membuang kepantai losari, sangat disayangkan program yang harusnya dapat merubah citra makassar malah menjadi alat untuk pencitraan semata, inilah contoh jika program dijalankan dengan setengah hati atau tak dimulai dari  pondasi dasar dengan memberikan pengetahuan tentang bahaya membuag sampah sembarangan karena merubah prilaku masayarakat itu tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sedikit lama, dimana tingkatan perubahan prilaku itu dimulai dari tahu ,sadar, mau dan mampu ke empat tingkatan ini harus dilalui agar prubahan yang terjadi karena faktor kesadaran dari masyarakat  tanpa adanya intervensi dari manapun (konsep pemberdayaan masyarkat).

 harusnya pemerintah kota makassar sudah memikirkan tentang penegakan sanksi jika terbukti kedapatan membuang sampah serta pengawas yang bertugas menegur dan juga mengedukasi tentang bahaya membuang sampah sembarangan karena sampah bersifat akumulatif jika tak dipikirkan solusi akan mewariskan bencana untuk anak cucu kita kedepan apalagi makassar dengan jumlah penduduk Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Makassar, saat ini sebanyak 432.115 jiwa atau 131.299 kepala keluarga (kk) dari total penduduk Kota Makassar sekitar 1,4 juta orang hidup masih hidup dan menetap dalam kawasan pemukiman kumuh Makassar, sebagian besar pemukiman mereka berada di lorong-lorong kota makassar, inimi dibilang ana’lorongna makassar, tahun 2014 itu bertambah belum lagi urbanisasi yang tiap tahunnya bertambah karena makassar sudah menjadi daerah tujuan untuk para wisatawan, pengusaha, pelajar/mahaiswa tak ketinggalan para pencari kerja dan masalah sampah harus menjadi prioritas agar makassar smart city dapat terwujud dengan prilaku masyarkatnya displin dan teratur.

I love MC (Makassar smart city) harusnya mengandeng falasafah siri’napacce yang telah menjadi prinsip yang mengalir dalam darah putra/putri bugis makassar, siri’ kalo rantasa’ siri’ kalo tidak maccaki, siri’ kalo buang sampah sembarangan, siri’ kalo tidak amanah dan siri’ kalo berbicara 2X.

Dalam teory hendrik l.blum peningkatan derajat kesehatan dipengaruhi dari empat faktor : 1.lingkungan, dimana kebersihan ligkungan dari lorong hingga jalan protokol harus terjaga denga ditunjang saran dan prasaran. 2.prilaku, sikap, sifat  dan tindakan birokrasi yang betanggung jawab serta elemen masyrakat harus saling bahu membahu dalam melaksanakan program MTR “makassarta’ tidak rantasa’”. 3.pelayanan kesehatan, harusnya petugas kesehaan menjadwalkan sosialisasi kemasyarakat guna memberikan edukasi atau pengetahuan tentang bahaya membuang sampah serta melakukan pendampingan dalam kegiatan kerja bakti dan kegiatan ini diharuskan semua dinas yang bertanggung jawab terhadap program MTR itu turut ambil bagian dalam kerja bakti mingguan dari lorong ke jalan protokol sesuai slogan membangun kota dari lorong. 3.genetika faktor ini biasanya cenderung mencontoh prilaku orang tua, dimana orang tua membuang sampah sembarangan pastinya anaknya juga ikut membuang sampah sembarangan makanya perlu pendidikan baik itu untuk anaknya juga orang tuanya yang tak henti diberi pengertian, sosialisasi agar konsep pemberdayaan itu terlaksana untuk menjadikan makassarta’ tidak rantasa’.

SKPD harus lebih responsif dalam menjalankan tugas bukan lagi terpaku pada program yang ada sifatnya normatif tetapi harus berani mengambil terobosan baru untuk mendukung program bapak walikota makassar pak dany pomanto (sapaan akrab ana’lorong) harusnya birokrasilah yang menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program ini, untuk menjadi contoh masyarakat bahwa membuang sampah sembarang tempat itu melanggar hukum dan juga menyebabkan pencemaran lingkungan dan udara yah ujung-ujung nya masyarakat sendiri yang menderita berbagi macam penyakit, dan kita tidak lagi berorientasi pada kuratif dan rehabilitatif tetapi lebih kepada promotif, preventif dengan konsep pemberdayaan yakin saja masyarakat akan sadar dalam menjaga kebersihan dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Seperti yang dilansir dimedia cetak terkait program MTR yang  sepertinya tidak serius untuk dijalankan, anggaran ada tetapi koq tidak digunakan biasanya program bertumpuk tetapi anggaran yang tidak ada, apakah ini bukti bahwa reformasi birokrasi harus digaungkan dikota makassar dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab, solusi buat walikota harusnya SKPD bapak harus direformasi dan di up grude agar bisa terus berada disamping bapak ketika berlari (mengerjakan tugas) jangan lagi ada yang ketinggalan apalagi tidak menyentuh garis finish (menyelesaikan tugas).

Apalagi makassar lahir dengan branding baru makassar smart city menuju kota dunia dikepemimpinan bapak dany pomanto yang notabene beliau adalah ahli tata kota ini merupakan tugas berat pak wali jika tak dilaksanakan bersama, bayangkan sejuta karakter birokrasi dan masyarakat dikota makassar yang harus disadarkan agar mau mejalankan program yang adami danaya kowdong,nia’ngasengmi ada yang, acuh, cuek, malasa’rantasa’, kumbala’, tongolo’, pa’bambangan na tolo dan juga pallakah ngeless, tena na akui bahwa iya punna jamang-jamang, eroki narrusu’ rikana baji ri dallekanna pak wali, “sanging tau ero nyamang tea ecoh”. 

Nabilang masyarakat kah manami bede’ 2X+=P harusnya birokrasi yang menjadi teladan dan contoh dalam pelaksanaan program MTR ehh ini bukannya menjalankan program tapi main judi dikantornya pak wali, mental birokrasi perlu di revolusi yang tidak amanah diberikan sanksi tegas saja pak wali bikin rantasa’-rantasa’ ji kantor walikota.

Selamat ulang tahun kota makassar, jayalah teruss dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean tahun depan pasar bebas sesama negara-negara asean semoga dalam program MTR menghasilkan produk  daur ulang sampah yang bisa menjadi barang souvenir khas kota makassar (ole-ole) yang di ekspor kenegara asean.


Makassar,09 nov 2014
01.19 wita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar